Oleh : Dr. Apt. Irman Idrus, S.Farm., M.Kes
SULAWESI TENGGARA, Q2LII NEWS — Rumput laut merah tidak semestinya hanya dipandang sebagai komoditas hasil laut yang dijual dalam bentuk bahan mentah. Di kawasan pesisir dan kepulauan Sulawesi Tenggara, komoditas tersebut menyimpan potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah sekaligus menjadi bagian dari penguatan ekonomi masyarakat pesisir.
Hal tersebut disampaikan Dr. apt. Irman Idrus dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan pada Jumat, 4 September 2026. Dalam kegiatan tersebut, Dr. apt. Irman Idrus hadir sebagai narasumber dengan mengangkat tema “Potensi Tersembunyi dari Rumput Laut Merah.” Di hadapan para petani rumput laut, Irman menjelaskan bahwa rumput laut merah memiliki kandungan senyawa bioaktif dan polisakarida yang berpotensi dimanfaatkan tidak hanya untuk kebutuhan pangan, tetapi juga untuk pengembangan produk kesehatan, kosmetik, farmasi, hingga material ramah lingkungan.
Menurutnya, potensi tersebut sangat relevan dikembangkan di Sulawesi Tenggara yang memiliki wilayah pesisir dan kepulauan yang luas serta sumber daya hayati laut yang beragam. “Rumput laut jangan hanya dilihat sebagai bahan baku yang dipanen kemudian dijual. Di dalamnya terdapat potensi ilmiah dan ekonomi yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana kita meningkatkan nilai tambah melalui pengolahan, penelitian dan inovasi,” jelasnya.
Menurut Irman, pengembangan rumput laut di pesisir dan kepulauan Sulawesi Tenggara perlu diarahkan dari pola jual bahan mentah menuju pengembangan produk bernilai tambah. Petani tidak hanya ditempatkan sebagai pemasok bahan baku, tetapi juga perlu mendapatkan akses terhadap pengetahuan mengenai kualitas bahan, teknologi pengolahan dan peluang pengembangan produk.
Ia menilai wilayah pesisir dan kepulauan Sulawesi Tenggara memiliki peluang besar untuk membangun ekosistem rumput laut berbasis riset dan inovasi. Ketersediaan sumber daya laut yang melimpah dapat dikombinasikan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi dan daya saing lebih tinggi.
Dalam pemaparannya, Irman juga memperkenalkan sejumlah peluang pemanfaatan rumput laut merah, mulai dari pangan fungsional, sumber antioksidan alami, bahan kosmetik dan skincare, bahan baku farmasi, bioplastik hingga biomaterial.
“Potensi rumput laut merah sebenarnya berada pada apa yang belum kita lihat. Ketika bahan ini diteliti lebih jauh, kita dapat menemukan senyawa dan karakteristik yang dapat dikembangkan menjadi produk baru,” ujarnya.
Kegiatan PKM tersebut berlangsung interaktif. Para peserta yang sebagian besar merupakan petani rumput laut diberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kualitas bahan baku sejak proses budidaya, pemanenan, pengeringan hingga penyimpanan. Diskusi juga diarahkan pada peluang pengembangan usaha berbasis hasil laut yang sesuai dengan karakteristik masyarakat pesisir dan kepulauan.
Irman menegaskan bahwa hilirisasi rumput laut Sulawesi Tenggara membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari petani, perguruan tinggi, pemerintah, pelaku usaha hingga industri. Kolaborasi tersebut diperlukan agar hasil penelitian tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dapat diterjemahkan menjadi inovasi dan produk yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk membawa ilmu pengetahuan lebih dekat kepada masyarakat. Kita ingin hasil riset tidak hanya berada di laboratorium, tetapi dapat menjawab persoalan petani dan membuka peluang ekonomi baru,” katanya.
Ia berharap pengembangan rumput laut di pesisir dan kepulauan Sulawesi Tenggara ke depan tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pada peningkatan nilai, inovasi produk, penguatan industri lokal dan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, Sulawesi Tenggara memiliki peluang untuk membangun identitas sebagai salah satu wilayah pengembangan rumput laut berbasis biodiversitas dan inovasi di Indonesia, terutama melalui sinergi antara kekayaan sumber daya pesisir dengan kapasitas penelitian perguruan tinggi.
“Masa depan rumput laut bukan hanya pada berapa banyak yang kita panen, tetapi seberapa tinggi nilai yang dapat kita ciptakan dari hasil panen tersebut,” pungkasnya




Leave a Reply