Kendari – Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui edukasi kesehatan berbasis kebutuhan dilaksanakan di Desa Aoma, Kecamatan Wolasi, Kabupaten Konawe Selatan. Kegiatan yang berlangsung pada 27 April hingga 9 Mei 2026 tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai berbagai persoalan kesehatan yang berkaitan dengan kesehatan ibu, anak, dan keluarga.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Praktik Kebidanan Komunitas Program Studi D-III Kebidanan STIKES Pelita Ibu. Sebelum pelaksanaan edukasi, tim terlebih dahulu melakukan pendataan keluarga untuk mengidentifikasi kondisi serta permasalahan kesehatan yang dihadapi masyarakat Desa Aoma.
Berdasarkan hasil pendataan tersebut, tim menetapkan enam materi prioritas, yaitu HIV/AIDS dan penyakit menular seksual (PMS), ASI eksklusif, pemeriksaan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA), Pap smear, gizi balita, serta imunisasi.
Edukasi dilaksanakan secara tatap muka melalui ceramah interaktif, diskusi, dan tanya jawab. Materi disampaikan menggunakan bahasa yang mudah dipahami agar masyarakat dapat memperoleh informasi kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Peserta juga diberikan kesempatan untuk menyampaikan pengalaman serta melakukan klarifikasi terhadap berbagai informasi kesehatan yang selama ini mereka terima.
Sebanyak 99 peserta mengikuti rangkaian evaluasi sebelum dan sesudah kegiatan. Peserta terdiri dari kepala keluarga, pasangan usia subur, ibu hamil, ibu menyusui, serta masyarakat Desa Aoma yang mengikuti kegiatan edukasi.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat pada seluruh materi yang diberikan. Peningkatan terbesar terdapat pada pengetahuan mengenai HIV/AIDS dan PMS, dari 47,47 persen sebelum edukasi menjadi 89,90 persen setelah edukasi atau meningkat sebesar 42,42 poin persentase.
Pengetahuan mengenai ASI eksklusif meningkat dari 58,59 persen menjadi 90,91 persen. Pengetahuan tentang pemeriksaan IVA meningkat dari 63,64 persen menjadi 88,89 persen, sedangkan Pap smear meningkat dari 69,70 persen menjadi 91,92 persen.
Pada materi gizi balita, tingkat pengetahuan baik meningkat dari 77,78 persen menjadi 90,91 persen. Sementara itu, pengetahuan mengenai imunisasi yang sejak awal sudah relatif tinggi meningkat dari 89,90 persen menjadi 91,92 persen.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa edukasi kesehatan yang disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat dapat membantu meningkatkan pemahaman terhadap berbagai persoalan kesehatan, terutama pada materi yang sebelumnya masih memiliki kesenjangan pengetahuan cukup besar.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan tidak hanya memperoleh tambahan pengetahuan, tetapi juga semakin sadar akan pentingnya pencegahan penyakit, pemeriksaan kesehatan, pemenuhan gizi, pemberian ASI eksklusif, serta pemanfaatan pelayanan kesehatan yang tersedia.
Ke depan, penguatan materi kesehatan melalui puskesmas, pemerintah desa, dan kader kesehatan diharapkan dapat terus dilakukan, khususnya mengenai HIV/AIDS, ASI eksklusif, dan skrining kanker serviks. Pendekatan berbasis kebutuhan masyarakat juga dapat dipertahankan agar setiap kegiatan edukasi kesehatan lebih tepat sasaran dan memberikan manfaat yang berkelanjutan.



