Q2 Lantera Ilmiah Institute · Media Informasi & Ilmiah
Menghubungkan informasi akademik, kegiatan masyarakat, kesehatan, pendidikan, dan publikasi ilmiah dalam satu portal.
Bagikan Berita: Facebook · WhatsApp · Twitter
Opini & Artikel

Dari Rumput Laut Menjadi Kehidupan: Ketika Laut Tidak Lagi Hanya di Panen, Tetapi Diolah Menjadi Pengetahuan

Oleh : Dr. apt. Irman IdrusDosen Prodi S1 Farmasi, Universitas Pelita Ibu

KENDARI, Q2LII NEWS — Laut sering kali kita pandang sebagai tempat mengambil hasil. Rumput laut dipanen, dikeringkan, dijual, lalu perjalanan nilainya berhenti di tangan pembeli. Padahal, di balik organisme sederhana yang tumbuh di perairan pesisir itu tersimpan sesuatu yang jauh lebih besar: molekul, mineral, polisakarida, senyawa organik, dan potensi biologis yang dapat ditransformasikan menjadi teknologi.
Dari pemikiran itulah saya sedang mengembangkan sebuah gagasan: mengubah Kappaphycus alvarezii dari sekadar komoditas menjadi sumber inovasi biofertilizer.

Yang sedang dikembangkan bukan sekadar sebuah produk cair berwarna gelap di dalam botol. Di baliknya terdapat proses ilmiah yang panjang: pemilihan bahan baku, pencucian, pengeringan, pengecilan ukuran, ekstraksi, formulasi, inokulasi mikroorganisme, fermentasi, pemisahan, stabilisasi, hingga pengujian efektivitasnya terhadap tanaman.

Pada tahap awal pengembangan, Kappaphycus alvarezii diposisikan sebagai sumber bahan aktif hayati, sementara konsorsium mikroorganisme berfungsi sebagai komponen biologis yang diharapkan dapat membantu menyediakan atau meningkatkan ketersediaan unsur hara dan mendukung pertumbuhan tanaman.

Konsep formulasi awal yang sedang dikembangkan memadukan ekstrak Kappaphycus alvarezii, molase, konsorsium mikroba, dan air sebagai medium, dengan mikroorganisme seperti Bacillus, Pseudomonas, dan Azotobacter sebagai kandidat komponen biologis. Namun, formulasi tersebut masih merupakan formulasi pengembangan awal, sehingga konsentrasi, stabilitas, pH, viabilitas mikroba, umur simpan, serta efektivitas terhadap tanaman harus dibuktikan melalui penelitian laboratorium dan uji lapangan.

Di sinilah sebuah penelitian sederhana dapat berubah menjadi sebuah filosofi besar tentang bagaimana kita memandang kekayaan alam.
Kita tidak seharusnya bertanya hanya: “Berapa harga satu kilogram rumput laut?”
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

“Berapa banyak nilai pengetahuan yang dapat kita lahirkan dari satu kilogram rumput laut?”

Perbedaan dua pertanyaan tersebut adalah perbedaan antara menjual sumber daya dan membangun kedaulatan pengetahuan.
Selama ini, wilayah pesisir sering berada pada posisi sebagai pemasok bahan mentah. Masyarakat membudidayakan, memanen, mengeringkan, kemudian menjual. Nilai ekonomi terbesar justru sering muncul jauh dari tempat bahan baku itu berasal.

Saya ingin mencoba membalik paradigma tersebut.
Rumput laut yang tumbuh di perairan kita harus dapat menjadi awal dari sebuah rantai inovasi lokal: dari pembudidaya → bahan baku → laboratorium → ekstrak → formulasi → biofertilizer → pengujian → standardisasi → perlindungan kekayaan intelektual → hingga produk yang memiliki nilai ekonomi.

BACA JUGA : Dorong Petani Pesisir dan Kepulauan Sulawesi Tenggara Kenali Potensi Tersembunyi Rumput Laut Merah

Dengan cara pandang ini, laboratorium tidak lagi menjadi ruang yang terpisah dari masyarakat pesisir. Laboratorium menjadi jembatan yang menghubungkan kekayaan alam dengan kesejahteraan masyarakat.

Sebagai seorang akademisi farmasi, saya melihat Kappaphycus alvarezii tidak hanya dari perspektif pertanian. Saya melihatnya sebagai biomassa hayati yang memiliki kemungkinan untuk dieksplorasi secara multidisiplin—farmasi bahan alam, bioteknologi, mikrobiologi, kimia bahan alam, teknologi formulasi, ilmu tanah, hingga pertanian berkelanjutan.

Inilah yang menurut saya menjadi wajah penelitian masa depan.
Bukan lagi penelitian yang berhenti pada publikasi.
Bukan pula penelitian yang hanya menghasilkan angka dan tabel.
Tetapi penelitian yang mampu bergerak dari molekul → teknologi → produk → masyarakat.
Saya menyebut pendekatan ini sebagai “Dari Biomassa Menuju Bioekonomi.”
Sebab kekayaan alam tidak akan pernah benar-benar menjadi kekayaan apabila kita hanya mengambilnya dari alam tanpa meningkatkan nilai pengetahuannya.

Rumput laut adalah contoh kecil dari persoalan besar Indonesia.
Kita memiliki laut yang luas. Kita memiliki biodiversitas yang luar biasa. Kita memiliki masyarakat pesisir yang memiliki pengalaman turun-temurun. Kita memiliki perguruan tinggi, laboratorium, peneliti, dan generasi muda.
Yang sering kurang bukan sumber dayanya.

Yang kurang adalah keberanian untuk menghubungkan semuanya menjadi sebuah ekosistem inovasi.
Karena itu, pengembangan biofertilizer berbasis Kappaphycus alvarezii ini saya tempatkan bukan semata-mata sebagai eksperimen membuat pupuk organik cair.

Saya ingin menjadikannya sebagai model kecil bagaimana perguruan tinggi seharusnya bekerja bersama kekayaan alam daerah.
Dari pesisir Sulawesi Tenggara, kita tidak harus selalu mengirim bahan mentah keluar daerah.

Kita harus mulai mampu mengirim pengetahuan, teknologi, formula, produk, paten, publikasi, dan inovasi.
Suatu hari nanti, saya membayangkan seorang pembudidaya rumput laut tidak lagi hanya bertanya kepada dirinya sendiri, “Berapa harga rumput laut saya hari ini?”
Tetapi juga dapat berkata:

“Rumput laut yang saya budidayakan adalah bahan baku ilmu pengetahuan dan teknologi.”

Dan ketika kalimat itu benar-benar menjadi kenyataan, maka kita telah mengubah cara sebuah masyarakat memandang laut.
Laut tidak lagi hanya menjadi tempat mencari penghasilan.
Laut menjadi ruang pengetahuan.
Rumput laut tidak lagi hanya menjadi komoditas.
Rumput laut menjadi bahan baku inovasi.
Dan perguruan tinggi tidak lagi hanya menjadi tempat menghasilkan lulusan.
Perguruan tinggi menjadi tempat di mana kekayaan alam diterjemahkan menjadi masa depan.
Inilah penelitian yang sedang saya kembangkan: bukan sekadar membuat biofertilizer dari rumput laut, tetapi mencoba membuktikan bahwa dari biomassa yang sederhana dapat lahir pengetahuan, teknologi, nilai ekonomi, dan harapan baru bagi masyarakat pesisir

Redaksi Q2LII
Q2LII News · Q2 Lantera Ilmiah Institute

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terkait